Hapus Ke Munafik-an !

"Ora tedheng Aling Aling"

Seandainya Aku Ki Hajar Dewantara

Tulisan ini di ilhami dari Tulisan Ki Hajar Dewantara, yang berjudul “Seandainya Aku Seorang Belanda” (judul asli: Als ik eens Nederlander was), dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr. Douwes Dekker, tahun 1913. Artikel ini ditulis dalam konteks rencana pemerintah Belanda untuk mengumpulkan sumbangan dari Hindia Belanda (Indonesia), yang saat itu masih belum merdeka, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis. Kutipan tulisan tersebut antara lain :

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan dinegeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun”.

Melihat tulisan diatas, aku tergerak menulis, seandainya aku Ki Hajar Dewantara. yang antara lain karena sangat prihatin melihat carut marutnya sistem pendidikan sekarang ini.bendera Merah Putih

Nampaknya sekarang ini, Sekolah signifikan hanya dimiliki yang kaya kaya saja. jadi kalau ada kata kata parodi ” Anak Miski Dilarang Sekolah “, ada benarnya. begaimana tidak ?. sebentar lagi masa penerimaan Mahasiswa, atau Siswa baru tiba. tentunya sudah bukan rahasia umum lagi, beberapa sekolah baik itu TK, SD, SMP, SMA, atau bahakan perguruan tinggi mematok ( pasang tarip ) dalam sejumlah nominal tertentu. dulu di SMP ternama Kota Yogyakarta, pernah dalam Formulir pendaftaran siswa baru ditulis” apabila bapak bapak/ibu diterima disekolah ini, akan memeri sumbangan pendidikan : a. Rp……….b. Rp…………..dan C, Rp………….. juga untuk lembaga perguruan tinggi yang lain. pada Fakultas tertentu misalnya : Kedokteran, Kedokteran Gigi, pasaran harga sampai Ratusan Juta Rupiah. Jadi jelaslah sekarang bukan kecerdasan, atau kepandaian yang dibutuhkan untuk menjadi Dokter. tetapi kekayaan. Terus bagaimana Kwalitas Dokter nantinya ?, atau kwalitas sarjana yang lain !

Juga di SMA, SMP…?. haruskah lahir lagi Ki Hajar Dewantara di jaman sekarang ini. dimana karena saat doeloe ki Hajar Dewantara melihat Pendidikan Penjajahan Belanda sudah Diskriminatif, atau juga karena kurangnya wawasan kebangsaan. Dan tentunya para pendidiknya hanya mementingkan dirinya sendiri ?.

Mungkin Ki Hajar Dewantara sekarang akan menangis, ketika melihat sistem pendidikan jaman sekarang. dimana setiap ganti menteri, ganti kebijakan, yang berakibat ke kurikulum atau juga buku bacaan-nya.

Atau juga banyaknya Oknum guru, yang sudah tidak sesuai lagi akan niat awalnya. tetapi jangan khawatir masih banyak juga yang berhati mulia kok !. yang kurang ajar itu Oknum tertentu ( Tapi Jumlahnya lumayan ). Tut Wuri Handayani, Ing Ngarso sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso. kalau benar benar 3 Filosofi ajaran dari Ki Hajar Dewantara ini diterapkan. pasti pendidikan di Indonesia akan bagus. terutama di Yogyakarta yang punya kota predikat Pendidikan. tetapi apa yang terjadi Tut Wuri malah Korupsi, Ing Ngarso sung Braholo, Ing Madyo Mangun Nisto. Banyak Beaya Pendidikan yang berasal dari Orangtua Siswa, malah buat Foya foya, bukan untuk Tujuan yang sebenarnya. artinya penyelenggaraan Pendidikan sudah tidak proporsional lagi. Wallohu’alam

3 Mei 2008 - Posted by | 1

1 Komentar »

  1. yups,bener.. selain besarnya biaya untuk sekolah yang nantinya lulus cuma dapat selembar ijasah yang diharapkan bisa untuk melamar kerja, sistem pendidikan di negara kita tercinta ini bukannya meningkatkan kreativitas pelajar/mahasiswa tetapi malah menghambat pola berfikir kita. kita selama ini hanya dididik bagaimana besok dalam dunia nyata menjadi pekerja yang baik, bagaimana kita besok kalau sudah tua bisa hidup nyaman dan aman dengan uang pensiunan kita. padahal sekarang ini adalah zaman dimana kita, dengan derasnya arus informasi dan globalisasi dapat terus maju sama atau bahkan melebihi bangsa2 yang lain, tapi bagaiman kita bisa maju jika generasi muda saat ini dibanjiri hal2 yang membuat kita berfikir dan bertindak “aman”, suatu hal yang menjadikan kita berjalan ditempat, kita harus keluar dari belenggu itu,dan adalah kewajiban kita bersama untuk mencerdaskan dan merubah masa depan bangsa Indonesia.

    Komentar oleh jety_69 | 16 Oktober 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: